Ini bukan hari penting, tapi bagiku ini pengalaman yang teramat penting. Hari itu 4 November 2011, aku berjanji akan menjemputnya setibanya dia di semarang. Dan benar, kurang lebih pukul 13.00 aku menjemputnya di KFC pandaran kemudian mengantarnya membeli oleh-oleh untuk teman-teman dan keluarganya. Setelah itu ke sebuah kantor dan bersenang-senang merayakan ulang tahun salah seorang kawan, karaokean dan menghabiskan waktu seharian. Malam itu dia menginap di kosku, dan tidak ada sedikitpun perasaan lain, sama sekali tidak. Bahkan aku tidak merasa ada sesuatu yang berbeda atau bahkan janggal, aku hanya merasa dia adalah teman yang kebetulan punya visi hidup yang sama. Sampai pada keesokan harinya dia mengajakku untuk mengantarnya membeli tiket pulang ke Jakarta, lalu kami pergi mencari tempat servis Hp karna kebetulan hpnya mati semalaman kehabisan batre dan terjatuh saat di bis perjalanan ke semarang. Entah perasaan apa yang mengganggu pikiranku saat tiba-tiba dia bertanya perihal caraku mengenali orang yang mendekati aku, dan tanpa basa-basi dia bilang ‘ada signal nggak?’ tiba-tiba aku merasa ada getaran yang kuat, sepertinya aku terlalu kaget bahkan tidak pernah menduga akan ada cerita lain dikemudian hari. Aku hanya merasa ada yang mulai tak beres, tapi aku berpura-pura tak mengetahuinya bahkan tak mau mengambil kesimpulan sendiri. Kemudian kami berpisah, dan tidak ada sesuatu yang berubah dalam hidupku, aku masih merasa biasa dan tak ada sesuatu yang aku fikirkan setelah perpisahan itu.
Malam itu, minggu malam mungkin sekitar pukul 18.30 dia menelfonku. Dia bilang ingin mengatakan sesuatu yang tak sempat ia katakan tempo hari, kata-kata yang membuatnya tidak tenang. Aku tak banyak bicara waktu itu, aku memang semakin jelas menerka hanya tidak mau langsung menebaknya. Sampai dia benar-benar mengatakan apa yang mengganjal dipikirannya, dia bilang menyukaiku. Dan entahlah harus ku jawab apa, aku hanya sedikit shock saat itu, tak pernah berpikir sejauh itu. Aku hanya bilang sebenarnya aku merasa nyaman dengannya, bahkan pernah mengaguminya_dan tidak pernah berharap akan ada cerita cinta (dia perempuan, dan bagiku dia begitu kuat, tegar, penuh semangat, dan berani menantang hidup). Aku bilang butuh waktu untuk berpikir panjang, aku hanya ingin bertanya perihal orientasi seksual yang katanya bisa berubah kapanpun. Lalu dengan lantang aku bilang tidak karna tak ingin membuatnya menunggu bahkan berharap terlalu banyak, aku masih jauh berpikir tentang jalan hidupku yang selama ini kubayangkan seperti keluarga hetero, menikah dengan laki-laki, hidup dengan suami serta anak-anak yang kulahirkan dari rahimku sendiri karna di edisi-edisi sebelumnya pun aku menjalin hubungan dengan laki-laki, meskipun kadang muncul beberapa rasa bosan dan ketidakseriusan atas rasa yang aku jalin (dan hanya ku artikan sebagai tahapan dimana aku belum cukup matang menjalin hubungan). Tidak kupingkiri homoseks_pun tetap bisa hidup dengan anak-anak dan diapun tak akan melarangku jika suatu saat aku ingin bersuami (dan ini teredengar gila buatku). Entahlah, aku tiba-tiba sangat terganggu dengan masalah ini. Aku mulai merasakan betapa sulitnya berhadapan dengan perkara yang tidak semua orang mampu memahaminya, dan aku merasa sesak karna tak tau harus berbagi cerita ini dengan siapa. Terlalu banyak yang menabukan perihal ini, bahkan mungkin masih banyak yang akan memintaku istighfar atau bahkan bertaubat, dan ini berat. Sebab aku tak merasa sedang gila atau terganggu jiwanya, aku hanya sedang butuh seseorang untuk berbagi cerita (kubayangkan masa-masa ini pernah dia alami juga, sampai dia benar-benar memutuskan dan memilih apa yang dia anggap benar dan sesuai dengan kehendak hatinya). Dia terima jawabanku, dan dia bilang ingin bertemu lagi sebelum berangkat ke Jakarta. Aku bilang aku usahakan…
Setelah hari itu dia memang semakin sering sms dan telpon, aku merasa dikejar-kejar dan jujur aku sangat terganggu dan mulai merasa takut. Meskipun sudah ku katakan aku sedang banyak berpikir tentang perubahan orientasi seksual yang mungkin saja akan aku alami. Sampai esok hari saat dia bilang pagi itu berangkat ke semarang dan ingin bertemu, aku semakin ketakutan.. aku semakin merasa tak nyaman, dan aku merasa kacau dengan cara ini. Aku bilang aku tak ingin bertemu, dan aku takut jika harus bertemu, aku merasa dipaksa untuk selalu bertindak diantara kekacauan pikiranku saat itu. Aku tak bisa berteriak lantang atas perasaan tak nyaman yang mulai aku rasakan, bukan tak nyaman denganmu tapi tak nyaman dengan sejuta pertanyaan yang membrondongku perihal perasaan yang sedang kucoba tegaskan, aku butuh waktu.. karna aku kadang kesulitan mengontrol kata dan akhirnya berjejal. Kuputuskan untuk bilang iya saat dia bilang pingin ke kantorku untuk sekedar main, bagiku tidak ada yang salah jika tetap berhubungan baik. Dia ajak aku bercerita, bercerita banyak tentang perjalan hidupnya sampai ia memutuskan orientasi seksual yang ia pilih sekarang. Dia ceritakan juga kisah cintanya dengan beberapa laki-laki yang sempat ia lakoni dan kandas begitu saja karna tak ada feel. Sampai akhirnya aku mulai merasa lega dengan cerita-cerita pancingannya, aku lega karna dia paksa aku untuk membagi apa yang sedang aku rasakan saat itu_membagikan kesulitanku untuk bercerita pada seseorang karna merasa dalam posisi sulit seperti yang ia rasakan juga dulu sampai kemudian dia putuskan untuk memilih. Dan aku mulai memilih saat itu, aku tak akan jadi pengecut jika rasa itu benar-benar kuat mengikatku. Aku bahkan mulai sadar bahwa ini hanya sekedar rasa kagum dan nyaman yang berlalu seperti dulu. Hilang saat sudah tidak menjalani aktifitas bersama, dan aku yakin ini bukan cinta apalagi kesiapan untuk membangun komitmen bersama. Ini akan lebih menyakitkan jika kupaksakan. Aku mulai membatasi pola komunikasi, bukan bermaksud jaga jarak hanya ingin bersikap sewajarnya seperti sebelumnya, membalas sms seperlunya, berusaha untuk selalu mengangkat telponnya. Nampaknya jadi serba salah, aku merasa jadi pihak yang serba keliru. Dia bilang aku tak pernah membalas sms dan tak mengangkat telponnya, saat itu aku benar-benar semakin yakin bahwa aku tak ada feeling apapun bahkan semakin merasa tidak dihargai. Hanya saja aku tak bisa tegas mengatakannya, masih banyak hal yang aku pertimbangkan.
Sampai pada hal yang semakin memaksaku untuk tegas, ada yang salah dalam cerita ini. Aku tidak meminta waktu untuk menetapkan perasaanku yang mungkin akan berubah padamu, tapi aku meminta waktu untuk memikirkan orientasi seksualku yang mungkin saja berubah sewaktu-waktu. Karna tak mudah dan tak bisa secepat itu aku membalas cinta seseorang yang hanya ku kenali sesaat dan dalam waktu singkat…
Hari ini aku tahu dengan segenap kesadaranku bahwa aku bisa berteriak lantang untuk membela hak-hakmu tapi aku ‘sampai detik ini’ belum ingin menjadi salah satu diantaramu, dan belum ingin menjadi sepertimu. Terimakasih untuk pengalaman penting yang menjadi pelajaran berharga untukku, ’dan membela bukan berarti harus menjadi’ itu yang aku pahami, maaf jika ada yang keliru.
November, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar