Selasa, 19 Juni 2012

Memahami Makna Konseling



Konseling menurut Isti Ilma (Psikolog BP3AKB Provinsi Jawa Tengah) adalah proses terjadinya interaksi antara konselor dan konseli untuk memecahkan masalah dan terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam konseling. Yang paling dibutuhkan (kunci untuk melakukan konseling) adalah teknik komunikasi yang baik.
Konseling berasal dari kata counsel yang diambil dari bahasa yunani yang berarti bicara bersama, maknanya: ada tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Kalau di arisan, perkumpulan, komunitas dll itu hubungannya bukan konseling
Dalam konseling ada hal-hal yang berbeda yakni pertemuan antara konselor dan konseli
Ketika datang dan bicara bersama membawa masalah kemudian mencari alternatif bersama dan kemudian mencari solusi
Makna konseling, kita bukan orang yang paham seluruhnya tentang klien. Kita hanya partner dan kita tidak berhak menentukan apa yang harus dilakukan klien. Sistemnya hanya membantu memecahkan masalah.
Ada proses belajar, klien memiliki macam-macam karakteristik sehingga saat konseling terjadi kita mencoba menemukan potensi, karakter dari klien. Visi misi dinas sosial adalah mengembalikan fungsi sosial anak (klien)
4 hal yang penting dari konseling
1.       Konseling sebagai proses
Konseling tidak cukup dilakukan sekali
2.       Sebagai hubungan spesifik
Kalau di LSM dan peksos: pendamping dan korban/klien
Hubungan kedua belah pihak, ada hubungan yang terbangun dari awal pertemuan. Antara psikolog dengan klien,
3.       Konseling adalah membantu klien
Membantu bukan memberi,
4.       Konseling untuk mencapai tujuan hidup
Klien tidak tahu mencapai tujuan itu bagaimana, tidak bisa menemukan tujuan. Akhirnya konselor membantu menemukan tujuan.
5.       Usaha memberikan nasehat
Kadang-kadang konseling itu berisi nasehat, padahal orang kalau diberi nasehat itu capek, dan konseling tidak berarti memberi nasehat
6.       Konseling sama dengan informasi
Selesaikan dulu konselingnya baru ditawarkan klien butuh informasi apa
7.       Menciptakan ketergantungan pada konselor
Jangan menciptakan ketergantungan dengan klien,
8.       Mempengaruhi klien
Konselor tidak boleh mempengaruhi klien, misal mengatakan bahwa hal ini bahaya atau bagaimana
9.       Harus netral nilai
Sering kita tidak netral, pilih-pilih dalam mendampingi klien. Kita butuh stabilitas emosi, siapapun yang datang kita harus mendampingi
10   Sama dengan interview
Sangat berbeda, dalam konseling memakai teknik wawancara, kita menggunakan pendekatan dan mencari tujuan bersama. Konselor hanya membantu untuk memecahkan masalah klien

Persamaan konseling, psikoterapi dan psikososial
Persamaan: menggunakan aplikasi dan prinsip psikologi, menekankan pada kebutuhan klien, memberikan dorongan/motivasi,
Perbedaan:          
Konseling: situasional lebih ke kondisi korban, saat ini dan akan datang, jangka pendek, wilayah pencegahan, orang yang normal, peksos dan konselor kemudian baru ke psikolog,
Psikoterapi: masalah emosional, masa lalu, jangka panjang, penyembuhan, orang yang patologis, medis (perawat atau dokter umum) paramedis,
Psikososial: masalah sosial (gempa, lapindo), saat ini, jangka panjang, pemulihan, orang normal akibat tekanan, peksos/volunteer,

 Asumsi dasar konseling
1.       Klien tidak dianggap sakit mental
2.       Bertumpu pada masa kini
Lihat masalahnya sekarang, jangan terlalu berfokus pada masa lalu atau masalah-masalah lain diluar masalah yang akan di konselingkan.
3.       Klien bukalah pasien
Pasien adalah orang yang sakit, kalau klien orang yang normal
4.       Konselor secara moral tidak netral
Bagaimana kita mengelola emosi kita, secara moral kadang kita pilih-pilih
5.       Fokus pada perubahan perilaku dengan kesadaran
Bagian dari modifikasi dalam konseling, kita dapat menggali potensi yang dimiliki sampai kemudian klien menemukan potensi dan solusi yang terbaik untuk dirinya




Sumber: Diskusi dalam Pelatihan Pendamping Korban Kekerasan oleh BP3AKB Provinsi Jawa Tengah pada hari Rabu, 20 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar