Kamis, 02 Juli 2015

bocah-bocah di pinggir rel

2007 silam aku mulai mengenal mereka, sejak aku masih duduk di semester 2. Aku mulai di ajak untuk belajar bersama bocah kecil di pinggiran rel stasiun kereta api poncol, menyenangkan sekaligus ada rasa haru disana. Rumah-rumah yang mereka tinggali saja sangat kecil, hampir sama dengan kamar kosku saat itu. tapi itu bukan alasan, bukan halangan juga untuk mereka mendapat pendidikan. Seminggu 2 kali aku menyambangi mereka, aku datang bersama kak ulin anak semester 4. Kami belajar bersama, menuntun anak-anak untuk belajar membaca, bercerita, bernyanyi dan segala hal yang kami bisa. 

Mei 2014, aku harus merelakan kenangan di tempat itu hilang. Mereka terpaksa pindah karena tanah yang mereka tempati ilegal, tempat yang mereka tinggali adalah milik PT KAI. Sehingga mau tidak mau mereka harus pindah dengan uang ganti rugi yang sangat minim. sekarang mereka tinggal di tempat yang berbeda, saling terpisah satu sama lain.

ada banya kenangan yang tertinggal disana, tempat itu adalah tempat dimana kadang aku mencari ketenangan, mengalihkan masalah; hanya disana aku merasa bisa menjadi diri sendiri, leluasa bermain sepeda kesana kemari, bermain layang-layang dan bernostalgia dengan masa kecil. Mendengar mereka bercerita, mengeluh dan 'pamer' dengan hal baru yang mereka miliki adalah kebahagiaan tersendiri. aku masih sangat ingat mereka memberikan gambar yang mereka buat sendiri untukku, lalu mendadak ingin menunjukkan dance hasil karya mereka sendiri.

sekarang hanya bisa mengingat cerita mereka, meskipun jauh setidaknya mereka pernah ada di sela-sela cerita hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar