Entahlah, sampai detik ini saya masih merasa tidak terima ketika ada perempuan yang disakiti. Barang kali pekerjaan saya sedikit banyak telah menyumbang kemuakan, ketakutan, dan kehati-hatian pada laki-laki.
Saya terus-terusan berpikir tentang cerita seorang perempuan yang merasa sangat kecewa karena pasangannya berselingkuh, dan perselingkuhan itu bukan kali pertama di lakukan. Justru kali ini pasangannya mengungkapkan cinta pada sahabat dekatnya sendiri, dengan berbagai kegelisahan dan kegalauan ia dengan sangat yakin ingin mengakhiri hubungannya. Walaupun yang di jalani juga hubungan yang tidak jelas, pacar bukan, tunangan juga bukan meskipun kedekatan mereka sudah lebih dari sekedar teman. Dulu mereka memang pacaran, tapi di kasus perselingkuhan pertama mereka putus. Karna terang-terangan si laki-laki memilih perempuan lain ketimbang dirinya, beberapa waktu berlalu mereka balikan lagi. Mulai dekat kembali meskipun tak ada kejelasan komitmen, jalan apa adanya. Tampilan luar nampak bahwa si perempuan yang ngebet banget, publikpun banyak yang berasumsi demikian karena si lelaki sangat menjaga image-seolah tak butuh dan hubungannya dengan si perempuan biasa saja. Ketika si perempuan mempertanyakan kejelasan hubungan si lelaki cuek saja, nampak seperti tidak begitu nyaman selalu di kejar dengan pertanyaan begitu. Namun ketika si perempuan mulai dekat dengan orang lain si lelaki seolah tidak terima lalu memberikan perhatian lebih. Benar-benar egois tingkat tinggi
Kembali pada kasus perselingkuhan yang diulang, setelah galau, sakit hati, frustasi dan ingin mengakhiri hubungan. Pun setelah di yakinkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang di harapkan tidak membuat perempuan luluh kembali, akhirnya hubungan mereka merenggang. Akan tetapi hal tersebut tidak berjalan lama, beberapa waktu paska galau akut yang dialami si perempuan, rasa enggan untuk menjalin hubungan lagi gugur. Ini kemudian menjadi pelajaran berharga, bahwa sakit hati dan kesedihan seorang perempuan selalu bisa dikalahkan dengan mulut manis lelaki.
Kemudian muncul pertanyaan besar di benak saya, apakah hati perempuan terlalu baik sehingga mereka mudah di butakan dengan dusta yang diulang? Apakah sikat perempuan yang terlalu baik itu kemudian membuat mereka menjadi terlalu bodoh untuk melihat kenyataan? Penyataan yang sering di pakaipun adalah sebuah pengharapan agar pasangannya suatu saat akan berubah, mencintainya kembali. Pertanyaannya, Bagaimana jika dalam kurun waktu yang lama ternyata pasangan tidak berubah dan melakukan perselingkuhan lagi? Masih akan tetap berharap berubah dan bertahan? Cinta memang sulit di hilangkan tapi tidak berarti cinta tidak bisa rasional. Cinta itu tidak sepihak dan tidak menyakiti,
Kekerasan yang sudah berpola dan terulang, besar kemungkinan untuk terjadi lagi. Lalu apakah kamu rela diri dan perasaanmu dikorbankan lagi suatu saat nanti? Saya masih mempercayai bahwa tidak semua laki-laki begitu, itu juga kemudian yang menjadi penguat; jangan bertahan dengan lelaki yang tidak tegas dan punya riwayat menjadi pelaku kekerasan baik fisik, psikis maupun seksual. Mending sakit hati sekarang daripada harus menanggung penderitaan yang berkepanjangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar