Minggu, 01 April 2012

Bedah Buku “Jangan Lepas Jilbabku; Catatan Harian Seorang Waria” dan Diskusi Lintas Iman

     Perbedaan terkadang selalu menjadi jempatan pemisah untuk menjalin sebuah komunikasi yang seimbang, termasuk ketika kita membincang masalah sexualitas dan iman. Selasa, 8 Juni 2010 Youth Interfaith Forum on Sexuality (YIFoS) bekerjasama dengan Lembaga Advokasi PMII Komisariat Walisongo Semarang dan Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo menggelar acara bertajuk kerukunan umat beragama yang menyoal masalah LGBTIQ (Lesbian, Gay, Bisex, Transgender/Transexual, Intersex dan Queer) yang mana isu ini selalu dianggap tabu dan menyimpang dengan aturan tuhan. Lagi-lagi agama yang seolah menjadi tameng utama untuk mendeskriminasikan kelompok-kelompok tersebut, menciptakan jarak dan pemisah. Padahal Tuhan selalu mengajari kita tentang cinta kasih kepada sesama manusia tanpa memandang status social atau bahkan orientasi sexual.
    Acara yang digelar di Auditorium kampus 1 IAIN Walisongo Semarang dan dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai elemen dan aktifis jaringan social ini seolah membuka mata kita untuk menghargai dan mengasihi mereka yang selama ini terpinggirkan dari masyarakat. Bedah buku yang mengangkat tema “Perihal Jilbab: Disaat identitas mulai terungkap” menjadi sebuah  pertanyaan besar yang kadang hanya berakhir dengan cibiran dan umpatan, padahal ketika kita kaji ulang tentang perihal jilbab yang selama ini menjadi “symbol” seorang muslimah (dalam Islam) yang taat, seolah akan tampak buruk dan tidak layak jika ternyata dikenakan oleh mereka yang dianggap menyimpang dari Tuhan. Dan mereka yang dianggap menyimpang tidak diperkenankan menggenakan atribut tersebut karena dianggap mengotori. Padahal mengenakan jilbab bukan jaminan yang jelas untuk menjudge sebuah arti kesucian diri, dan yang berhak untuk itu tidak hanya mereka yang menyebut dirinya “normal”.
     Tidak cukup dengan pengalaman seorang Shuniyya (Waria; Penulis buku) yang mengalami berbagai gugatan dari masyarakat karena dia mengenakan jilbab. Dari acara ini kita juga mulai mengupas tuntas tentang respon iman terhadap keberagaman sexualitas, dimana selama ini kita hanya tau pola hubungan laki-laki dengan perempuan saja. Padahal disekitar kita, ada banyak hal yang berbeda yang tak pernah terjamah. Dari diskusi yang melibatkan berbagai pemuda lintas iman ini kita mencoba mendiskusikan hal-hal yang menjadi senjata orang-orang tekstualis yang menjudge mereka berdosa dan dikutuk Tuhan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar