Rabu, 04 April 2012

Perawan

      Keperawanan, hal yang teramat penting dan diagung-agungkan. sebuah beban yang berat saat perempuan dititipi symbol kehormatan dan harus menjaganya sampai ia menikah. Ironisnya, masyarakat kita menganggap bahwa keperawanan hanya dibuktikan dengan selaput dara atau hymen yang robek pada saat penetrasi pertama, pun harus dibuktikan dengan darah yang keluar pada saat penetrasi. Padahal fakta membuktikan bahwa selaput dara bisa robek walaupun tanpa seks, namun tidak semua orang memahami hal ini. Masyarakat kita (Indonesia) seolah mendewakan darah perawan sebagai symbol kehormatan, walaupun tak semua perempuan yang masih ‘perawan’ bisa mengeluarkan darah saat malam pertamanya. Ada sebuah cerita, tepatnya di papua ada sebuah upacara adat yang sengaja digelar untuk mengetes keperawanan, ketika para perempuan tersebut lulus dan dinyatakan masih perawan mereka akan mendapatkan sertifikat dan tanda putih di kening, hal ini dimaksudkan sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada mereka yang masih bisa menjaga keperawanannya.

        Sebelum membincangnya lebih jauh, penulis sempat membaca sebuah artikel di kompas (7 agustus 2009) tentang konsep keperawanan, bahwa setiap Negara itu punya konsep tersendiri dalam mengartikan kata perawan. Ada Negara yang mengartikan perempuan yang masih perawan adalah perempuan yang belum menikah, jadi walaupun perempuan tersebut pernah melakukan hubungan intim atau penetrasi tetap disebut perawan sampai ia menikah. Ada juga yang beranggapan bahwa perawan adalah mereka yang belum memiliki anak walaupun sudah menikah, dan secara otomatis akan berubah status saat melahirkan anak pertamanya, berarti ada muncul pergeseran dari yang awalnya disebut perawan menjadi ibu.

         Lucu memang ketika membincang perkara status sosial, lantas apa iya keperawanan hanya diukur dari darah yang tercecer dan selaput dara yang masih utuh? Padahal dalam realitanya seorang dokter ahli kandungan dari UI, Slamet Suryono, beliau mengatakan bahwa selaput darah wanita sangat beragam. Ada yang bolong-bolong, tipis, tebal, fleksibel, dan tidak semuanya berdarah saat melakukan penetrasi pertama kali. Fakta ini jelas sudah teruji secara medis, dan mitos-mitos yang berkembang tentunya sangat merugikan perempuan. Lantaskah pertanyaan yang muncul, apa iya seseorang mencari pasangan hanya mengukur dari dia perawan atau tidak perawan. Jika kamu misalnya menemukan pasangan yang ternyata sudah sangat klop dan nyaman untuk diajak berbagi hidup tapi tiba-tiba dia mangakui dirinya sudah tidak perawan mungkinkah kamu kemudian meninggalkannya karna dia tidak perawan lagi. benarkah keperawanan menjamin kehidupan yang bahagia dimasa berikutnya?. Mari merenungkannya…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar