Suit suit.. siulan keras seolah-olah otomatis keluar saat perempuan berpakaian seksi melintas. Seperti reflek saja hasrat ingin menggoda itu muncul bahkan tak jarang yang kemudian nyicil untuk mencolek, benar-benar serba salah dan serba dipersalahkan, perempuan menjadi korban dan objek hasrat khalayak. Sadar atau tidak sadar, ternyata wajah cantik perempuan (cantik ala iklan di media) dengan segenap pernak-pernik dan pakaian yang digunakan tidak hanya digandrungi oleh laki-laki saja tapi juga perempuan, sebab diam-diam perempuan pun memberi penilaian sendiri atas kekagumannya. Berbeda dengan laki-laki, perempuan ketika memandang laki-laki putih, bersih, macho, fashionable, wangi tentu sangat tergila-gila, tapi tidak dengan pandangan laki-laki sendiri_mereka cenderung mencibir dan menilai laki-laki berparas tampan dan berpenampilan nyentrik sebagai banci, dan tidak jantan.
Ada sebuah istilah jawa yang digunakan sebagai salah satu patokan untuk berpakaian dan berpenampilan ‘Ajining raga ana ing busana’, bahwa harga diri seseorang itu ada pada cara ia berbusana. Kemudian pakaian apakah yang mencerminkan harga diri bangsa dan yang baik dalam budaya kita? Apakah yang berpakaian besar, berjilbab, menutupi aurat (bagi muslim muslimat), atau hanya asal tidak memperlihatkan bagian-bagian sensual perempuan? perempuan dikritik sangat pedas atas pakaian yang ia kenakan bahkan kemudian muncul aturan-aturan baru dalam lingkungan kerja. Ramai sakali berita ini dibicarakan, kemudian muncullah larangan bahwa anggota DPR tidak boleh memakai rok mini, sebenarnya apa kaitan antara DPR yang notabenenya perwakilan rakyat yang seharusnya memikirkan rakyat justru sibuk memikirkan rok mini. pun seolah timpang di gedung perwakilan rakyat diatur dan dilarang untuk tidak memakai rok mini tapi SPG-SPG rokok, minuman, kosmetik justru dituntut untuk memakai rok mini dan ketat atau sebut saja seksi. Padahal apa hubungan antara rokok dan perempuan berpakaian seksi, apa juga kaitan antara perempuan dan minuman penghilang dahaga. Atau bisa jadi ada tujuan lain yang ditawarkan untuk menjual produk sekaligus mengeksploitasi tubuh perempuan. Dan lagi-lagi perempuan menjadi serba salah untuk memilih pakaian yang tepat dan aman untuk dikenakan, bahkan terkadang harus memaksa untuk memakai pakaian yang ia sendiri tidak nyaman mengenakannya.
Kembali pada pakaian yang menceminkan harga diri bangsa dan baik menurut budaya kita, disini (sebut saja jawa) masyarakat seolah-olah sibuk dengan urusan pakaian yang seharusnya menutupi bagian-bagian sensual perempuan meskipun tidak terdefinisi secara jelas dimana daerah sensual perempuan? Di pantat, dada, wajah atau bisa jadi seluruh tubuh perempuan. Dan lagi-lagi ketika ada kasus pelecehan seksual atau kekerasan seksual sekalipun salah satu yang disalahkan adalah pakaian yang dikenakan perempuan, sudah tertekan karna jadi objek kekerasan ditambah lagi ditekan karna dianggap mengumbar sisi-sisi sensualnya sehingga pantas mendapat perlakuan begitu. Masyarakat kita hanya dijejali pikiran dan pemahaman bahwa perempuan harus menjaga harga dirinya sendiri dan ‘jangan sampai diperkosa’ tapi disisi lain masyarakat tidak pernah mengajarkan kepada para pelaku untuk menjaga manusia yang lain (perempuan) untuk ‘jangan memperkosa’ sehingga yang dianggap salah tidak hanya pakaian perempuan tapi juga otak dan bagaimana cara seseorang memandang dan menilai sesuatu tidak hanya dari sisi sensualnya saja.
Jika di jawa kita sibuk membincang pakaian yang tertutup bagaimana jika kita coba melihat keadaan bangsa kita yang ada diujung sana. Di papua, mungkin saja kita bisa menyebut kalau perempuan disana taat pada aturan di DPR karena masyarakat papua tidak lagi mengenakan rok mini atau pakaian-pakaian seksi tapi justru lebih ekstrim lagi yakni memakai pakaian minim, minim di dada minim di pantat (koteka). Uniknya hal tersebut sah-sah saja dan tidak menjadi masalah besar, yang muncul kemudian ‘itulah budaya dan cara mereka berpakaian’. Lalu ketika membincang kembali masalah budaya bangsa bukankah mereka yang berpakaian minim juga bagian dari budaya kita (Indonesia), mereka nyaman dengan pakaian yang mereka kenakan meski minim, pun tidak ada yang mempermasalahkan atau melabeli mereka mengumbar tubuh dan daerah sensual. Dalam sejarah masyarakat jawa, pakaian perempuan sebenarnya hanya kemben, dan selama bertahun-tahun kemben tidak pernah dipermasalahkan karna memperlihatkan bagian dada perempuan atau di bali misalnya perempuan hanya memakai jarik yang hanya menutup pusar sampai kaki dan tak pernah perbincangan serius perihal pakaian yang ‘simple’ itu karna masyarakat juga menganggap hal tersebut biasa dan lumrah, tak perlu dibesar-besarkan. Kemudian, masihkah berlaku aturan-aturan yang menjudge pakaian perempuan adalah pemicu pelecehan, masihkan ekspresi perempuan dibelenggu? Lantas pakaian seperti apa yang menjadi cerminan harga diri bangsa kita? Yang berjilbab, memakai rok mini, bercadar, berpakaian ketat, atau yang memakai koteka. Mari benahi cara berfikir kita dalam menilai sesuatu, biarkan semua orang memilih apa yang ‘nyaman’ mereka kenakan.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar