Kamis, 17 Januari 2013

Damai itu masih Impian



Keragaman itu nyata, tapi menghargai keragaman sampai saat ini masih menjadi impian. Mungkin ini seperti menggeneralisasi fakta, tetapi saya kira, judul di atas tidak terlalu berlebihan. Saya ingin menyandarkannya pada kasus yang kebetulan masuk di kantor dimana saya bekerja. Sebuah kasus yang membuat saya tercengang sekaligus geram.
Seorang anak kecil usia 2 tahun dan mendapat kekerasan seksual dari kakeknya (dari keluarga ayah) sendiri. Awalnya dia datang dengan nenek buyutnya dan nenek dari ibunya.  Mereka datang dengan ekspresi wajah yang takut namun gemas. Mereka bilang sedang melarikan cucunya dari ayah kandungnya karena saat ini kedua orangtuanya sedang bertengkar hebat. Dengan harapan yang tinggi, perlahan-lahan mereka ceritakan kronologi singkat kejadiannya.
Singkat cerita kasus ini menjadi tanggung jawab kami 1 tim. Beberapa kali kami melakukan visitasi ke rumah nenek korban untuk memastikan korban baik-baik saja dan berada di lingkungan yang aman. Ada ketakutan jika korban sering diajak keluar, pihak keluarga kakek korban (dari keluarga ayah) tiba-tiba menculik di jalan, karena dicurigai ada mata-mata yang selalu memantau gerak keluarga tersebut.
Yang sangat aneh adalah kasus ini ditutup di lingkungan keluarga, hanya perempuan-perempuan (Nenek, Buyut dan Ibu) saja yang tahu, mereka bilang pantangan untuk menceritakan hal-hal buruk dalam keluarga diluar. Ketika visitasi pertama kami menemui kakek (dari keluarga ibu) dan beliau mengaku tidak tahu menahu tentang alasan kenapa ada laporan ke kantor kami, beliau juga menegaskan bahwa beliaulah pemimpin keluarga jadi apapun yang terjadi di keluarga tersebut, beliaulah yang akan menanggung dan menyelesaikan tanpa perlu bantuan orang lain. Dan laporan yang disampaikan oleh nenek dan buyut sebaiknya dilupakan saja, mungkin itu hanya emosi sesaat, ucap beliau menegaskan. Saya hanya dapat menarik kesimpulan bahwa partisipasi perempuan seolah dipandang sebelah..
Beberapa bulan kemudian kasus diputus. Alasannya, berdasar karena mitos yang berkembang dalam keluarga (kebetulan keluarga etnis Cina), jika ada anggota keluarga yang sedang bermasalah padahal ada anggota keluarga yang juga sedang memiliki rencana hajat yang sakral (misalnya, pernikahan) maka masalah yang datang dianggap sebagai sarana untuk mengingatkan bahwa hajat tersebut sebaiknya dibatalkan atau masalah tersebut yang harus segera diselesaikan dan disimpan rapat saja.
Kejadian ini yang kemudian membuat saya berfikir bahwa diskriminasi dilakukan oleh orang yang paling dekat dan bisa jadi keluarga sendiria. Jika demikian halnya, maka jangan terlalu jauh bermimpi bahwa negara bisa menjamin kedamaian di satu sisi,  sementara di sisi lain, keluarga sendiri saja belum tentu mampu memberikan kebebasan dan kesempatan kepada semua anggota keluarga (perempuan) untuk ikut berpartisipasi dan dipertimbangankan opini-opininya.
Kasus tersebut hanya satu dari sekian banyak kasus diskriminasi yang ada di lingkungan sekitar kita, dan saya yakin ada lebih banyak lagi kasus di luar sana termasuk kasus yang sedang marak dibicarakan di media tentang calon Hakim Agung yang melontarkan kalimat bahwa pemerkosa tidak perlu dihukum mati karena si pemerkosa dan yang di perkosa sama-sama menikmati. Pembela hukum saja masih tidak paham keadilan dan terkesan diskriminatif, bagaimana Negara ini bisa aman, nyaman dan damai jika pembela hukumnya masih tidak peka dengan fungsi dan tugasnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar