Keragaman itu nyata, tapi menghargai keragaman sampai saat ini masih
menjadi impian. Mungkin ini seperti menggeneralisasi fakta, tetapi saya kira,
judul di atas tidak terlalu berlebihan. Saya ingin menyandarkannya pada kasus
yang kebetulan masuk di kantor dimana saya bekerja. Sebuah kasus yang membuat
saya tercengang sekaligus geram.
Seorang anak kecil usia 2 tahun dan mendapat kekerasan seksual dari
kakeknya (dari keluarga ayah) sendiri. Awalnya dia datang dengan nenek buyutnya
dan nenek dari ibunya. Mereka datang
dengan ekspresi wajah yang takut namun gemas. Mereka bilang sedang melarikan
cucunya dari ayah kandungnya karena saat ini kedua orangtuanya sedang
bertengkar hebat. Dengan harapan yang tinggi, perlahan-lahan mereka ceritakan
kronologi singkat kejadiannya.
Singkat cerita kasus ini menjadi tanggung jawab kami 1 tim. Beberapa kali
kami melakukan visitasi ke rumah nenek korban untuk memastikan korban
baik-baik saja dan berada di lingkungan yang aman. Ada ketakutan jika korban
sering diajak keluar, pihak keluarga kakek korban (dari keluarga ayah)
tiba-tiba menculik di jalan, karena dicurigai ada mata-mata yang selalu
memantau gerak keluarga tersebut.
Yang sangat aneh adalah kasus ini ditutup di lingkungan keluarga, hanya
perempuan-perempuan (Nenek, Buyut dan Ibu) saja yang tahu, mereka bilang
pantangan untuk menceritakan hal-hal buruk dalam keluarga diluar. Ketika visitasi
pertama kami menemui kakek (dari keluarga ibu) dan beliau mengaku tidak tahu
menahu tentang alasan kenapa ada laporan ke kantor kami, beliau juga menegaskan
bahwa beliaulah pemimpin keluarga jadi apapun yang terjadi di keluarga
tersebut, beliaulah yang akan menanggung dan menyelesaikan tanpa perlu bantuan
orang lain. Dan laporan yang disampaikan oleh nenek dan buyut sebaiknya
dilupakan saja, mungkin itu hanya emosi sesaat, ucap beliau menegaskan. Saya
hanya dapat menarik kesimpulan bahwa partisipasi perempuan seolah dipandang
sebelah..
Beberapa bulan kemudian kasus diputus. Alasannya, berdasar karena mitos yang
berkembang dalam keluarga (kebetulan keluarga etnis Cina), jika ada anggota
keluarga yang sedang bermasalah padahal ada anggota keluarga yang juga sedang
memiliki rencana hajat yang sakral (misalnya, pernikahan) maka masalah yang
datang dianggap sebagai sarana untuk mengingatkan bahwa hajat tersebut
sebaiknya dibatalkan atau masalah tersebut yang harus segera diselesaikan dan disimpan
rapat saja.
Kejadian ini yang kemudian membuat saya berfikir bahwa diskriminasi
dilakukan oleh orang yang paling dekat dan bisa jadi keluarga sendiria. Jika demikian
halnya, maka jangan terlalu jauh bermimpi bahwa negara bisa menjamin kedamaian
di satu sisi, sementara di sisi lain, keluarga
sendiri saja belum tentu mampu memberikan kebebasan dan kesempatan kepada semua
anggota keluarga (perempuan) untuk ikut berpartisipasi dan dipertimbangankan
opini-opininya.
Kasus tersebut hanya satu dari sekian banyak kasus diskriminasi yang ada
di lingkungan sekitar kita, dan saya yakin ada lebih banyak lagi kasus di luar
sana termasuk kasus yang sedang marak dibicarakan di media tentang calon Hakim
Agung yang melontarkan kalimat bahwa pemerkosa tidak perlu dihukum mati karena
si pemerkosa dan yang di perkosa sama-sama menikmati. Pembela hukum saja masih
tidak paham keadilan dan terkesan diskriminatif, bagaimana Negara ini bisa
aman, nyaman dan damai jika pembela hukumnya masih tidak peka dengan fungsi dan
tugasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar