Kamis, 10 Januari 2013

Jaringan Perempuan PMII: Habitus Baru Gerakan Perempuan


     Jaringan Perempuan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang disingkat dengan JPP lahir dari kepedulian kader perempuan PMII. Mereka yang tergabung dalam JPP merupakan kumpulan dari kader di Komisariat Walisongo yang masih peduli dengan isu-isu pergerakan, namun tidak memiliki wadah yang jelas secara struktural. Dengan kata lain, JPP ini menjadi semacam wadah bagi kader-kader “post-struktur” yang masih memiliki geliat untuk menghidupkan PMII, terutama dalam  ranah diseminasi ide, advokasi dan pendampingan.
     Jika ditilik secara kuantitas, kader PMII sangatlah banyak pun terlalu besar di IAIN Walisongo Semarang.  Jumlah yang sangat “gemuk” ini kerap memunculkan dilema. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam momen-momen tertentu, jumlah masa yang besar akan sangat  menguntungkan. Taruhlah misalnya dalam pesta demokrasi (ruling elite ) atau aksi di jalan. Besaran masa sangat diperlukan dalam dua momen itu. Tekanan terhadap pengambil kebijakan misalnya, akan terasa lebih kuat jika melibatkan masa yang besar. 
Namun, persoalan jumlah kader yang besar itu ternyata menyimpan persoalan di strategi kaderisasi. Masalah ini yang menjadi penyakit PMII dari masa ke masa. Hingga saat ini belum ada langkah solutif untuk menyelesaikan problem itu. Yang terjadi kemudian kader akan bertahan melalui seleksi alam.
    Level masalah lainnya adalah tidak terakomodirnya kader di struktur. Tidak terakomodirnya kader memang bukan semata-mata kesalahan pengurus yang sedang menjalankan roda organisasi. Efiensi dan efektivitas pengurus akan terasa ketika strukturnya lebih ramping.
Di negara-negara barat, struktur organisasi yang ramping menyebabkan mobilitas organisasi menjadi lebih terasa. Tapi, di negara kita yang masih sangat memperhatikan aspek komunalitas, tidak adanya pengakuan secara struktural, menjadi lantaran tamatnya riwayat karir kader-kader di PMII. Disamping itu, kader-kader PMII di IAIN seringkali berhadapan dengan masa-masa transisi, terutama dari Komisariat ke Cabang. Masa transisi itu yang pada gilirannya menyebabkan hilangnya kader-kader potensial karena harus menunggu pergantian kepemimpinan.
     Situasi lain yang terasa sangat problematis adalah kehadiran banyak senior yang masih memiliki gairah ber-PMII (baca: pasca Cabang atau Korcab), tapi tidak memiliki ruang yang memadai untuk menyebarkan ide-ide kreatifnya.
Latar belakang di atas inilah yang menjadi alasan logis untuk membangun sebuah habitus baru, yang kemudian kami beri titel, JPP.  Bagi JPP, kepedulian terhadap nyawa PMII bukanlah perkara stuktural, juga bukan perkara material atau kepentingan politik semata. Itu adalah bagian dari upaya untuk mengokohkan fondasi idealisme gerakan di ranah-ranah kultural. Aset inilah yang hendak dirawat oleh JPP ke depan. 

Sejarah JPP
         Jaringan Perempuan PMII Walisongo dicetuskan pada tanggal 1 Maret 2012  di Ngaliyan Semarang, Jaringan ini berawal dari kesepakatan 4 orang alumni PMII yang sudah lulus dari bangku perkuliahan namun semangatnya tak mampu terwadahi secara struktural. Perlahan jaringan ini mulai melebarkan sayap dan merangkul kader-kader perempuan PMII dari angkatan terbawah sampai senior yang masih bisa terangkul.
     Kehadiran JPP tentu tidak bermaksud untuk mendelegitimasi pengurus Rayon dan Komisariat PMII. JPP sekedar menjadi medium bagi konsolidasi kader-kader perempuan PMII. Medium ini sangat dibutuhkan, karena resources kader perempuan masih sangat terbatas, baik dari sisi jumlah maupun pengetahuannya. Jika pun ada kader perempuan yang muncul ke permukaan, persebarannya tidak cukup merata. Yang pada akhirnya, fakta itu menyebabkan konsolidasi gerakan perempuan, bak berayun ke ranting patah, bersandar pada basis epistemologi yang lemah.
       JPP bermaksud untuk memperkuat basis ideologi gerakan perempuan yang sesungguhnya memiliki akar sejarahnya dalam gerakan perempuan di Indonesia. Sungguh ironis jika pada kelanjutan ceritanya, organ intelektual laiknya PMII justru mengalami keterputusan. JPP hadir agar situasi ini sebisa mungkin dihindari.

Kegiatan JPP
     Dalam kapasitasnya sebagai jaringan, maka kegiatan yang didesain oleh JPP pada awalnya tentu masih berkutat pada proses pematangan konsep gerakan. Dengan segala keterbatasan yang dimiliki, JPP memutuskan untuk melakukan hal yang paling mungkin bisa dilakukan. Mulailah dibuat list kader-kader perempuan yang masih dikenal, visi dan misi jaringan yang sudah di bentuk dan akan mulai diarahkan kemana jaringan ini.
Sampai pada akhirnya pada tanggal 20 Desember 2012 JPP mulai memperkenalkan diri secara luas kepada kader-kader perempuan melalui kegiatan keagamaan yang masih ditradisikan oleh PMII seperti Yasinan dan Tahlil. Kegiatan itu mengambil tempat di Perumahan Pondok Ngaliyan Asri, Ngaliyan. Acara tersebut kemudian dilanjutkan dengan sharing, berbagi pengalaman dan informasi terkait gerakan perempuan PMII saat ini. Akhirnya muncul kesepakatan bahwa harus diadakan pertemuan-pertemuan serupa agar komunikasi tetap terjaga dan jaringan ini semakin kuat.
    Pertemuan kedua disepakati diadakan di Camp Semesta Putri, kos sekaligus wadah beberapa kader perempuan. Pertemuan kedua mulai melahirkan pikiran-pikiran bahwa Jaringan Perempuan PMII perlu mengulas sejarah gerakan perempuan PMII di IAIN. Ekspektasi besar ada di pundak JPP ini. Jaringan ini diharapkan bisa menjadi wadah yang kuat dalam menaungi perempuan-perempuan PMII. Bersama kita bisa dan bersama kita kuat.

editor: Tedi Kholiluddin, M. Si

Tidak ada komentar:

Posting Komentar