Jaringan
Perempuan PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) yang disingkat dengan JPP
lahir dari kepedulian kader perempuan PMII. Mereka yang tergabung dalam JPP
merupakan kumpulan dari kader di Komisariat Walisongo yang masih peduli dengan
isu-isu pergerakan, namun tidak memiliki wadah yang jelas secara struktural.
Dengan kata lain, JPP ini menjadi semacam wadah bagi kader-kader
“post-struktur” yang masih memiliki geliat untuk menghidupkan PMII, terutama
dalam ranah diseminasi ide, advokasi dan
pendampingan.
Jika
ditilik secara kuantitas, kader PMII sangatlah banyak pun terlalu besar di IAIN
Walisongo Semarang. Jumlah yang sangat
“gemuk” ini kerap memunculkan dilema. Tak bisa dipungkiri bahwa dalam
momen-momen tertentu, jumlah masa yang besar akan sangat menguntungkan. Taruhlah misalnya dalam pesta
demokrasi (ruling elite ) atau aksi
di jalan. Besaran masa sangat diperlukan dalam dua momen itu. Tekanan terhadap
pengambil kebijakan misalnya, akan terasa lebih kuat jika melibatkan masa yang
besar.
Namun,
persoalan jumlah kader yang besar itu ternyata menyimpan persoalan di strategi
kaderisasi. Masalah ini yang menjadi penyakit PMII dari masa ke masa. Hingga
saat ini belum ada langkah solutif untuk menyelesaikan problem itu. Yang
terjadi kemudian kader akan bertahan melalui seleksi alam.
Level
masalah lainnya adalah tidak terakomodirnya kader di struktur. Tidak terakomodirnya
kader memang bukan semata-mata kesalahan pengurus yang sedang menjalankan roda
organisasi. Efiensi dan efektivitas pengurus akan terasa ketika strukturnya
lebih ramping.
Di
negara-negara barat, struktur organisasi yang ramping menyebabkan mobilitas
organisasi menjadi lebih terasa. Tapi, di negara kita yang masih sangat
memperhatikan aspek komunalitas, tidak adanya pengakuan secara struktural,
menjadi lantaran tamatnya riwayat karir kader-kader di PMII. Disamping itu,
kader-kader PMII di IAIN seringkali berhadapan dengan masa-masa transisi,
terutama dari Komisariat ke Cabang. Masa transisi itu yang pada gilirannya
menyebabkan hilangnya kader-kader potensial karena harus menunggu pergantian
kepemimpinan.
Situasi
lain yang terasa sangat problematis adalah kehadiran banyak senior yang masih
memiliki gairah ber-PMII (baca: pasca Cabang atau Korcab), tapi tidak memiliki
ruang yang memadai untuk menyebarkan ide-ide kreatifnya.
Latar
belakang di atas inilah yang menjadi alasan logis untuk membangun sebuah
habitus baru, yang kemudian kami beri titel, JPP. Bagi JPP, kepedulian terhadap nyawa PMII bukanlah
perkara stuktural, juga bukan perkara material atau kepentingan politik semata.
Itu adalah bagian dari upaya untuk mengokohkan fondasi idealisme gerakan di
ranah-ranah kultural. Aset inilah yang hendak dirawat oleh JPP ke depan.
Sejarah JPP
Jaringan
Perempuan PMII Walisongo dicetuskan pada tanggal 1 Maret 2012 di Ngaliyan Semarang, Jaringan ini berawal
dari kesepakatan 4 orang alumni PMII yang sudah lulus dari bangku perkuliahan
namun semangatnya tak mampu terwadahi secara struktural. Perlahan jaringan ini
mulai melebarkan sayap dan merangkul kader-kader perempuan PMII dari angkatan
terbawah sampai senior yang masih bisa terangkul.
Kehadiran
JPP tentu tidak bermaksud untuk mendelegitimasi pengurus Rayon dan Komisariat PMII.
JPP sekedar menjadi medium bagi konsolidasi kader-kader perempuan PMII. Medium
ini sangat dibutuhkan, karena resources
kader perempuan masih sangat terbatas, baik dari sisi jumlah maupun
pengetahuannya. Jika pun ada kader perempuan yang muncul ke permukaan,
persebarannya tidak cukup merata. Yang pada akhirnya, fakta itu menyebabkan
konsolidasi gerakan perempuan, bak berayun ke ranting patah, bersandar pada
basis epistemologi yang lemah.
JPP
bermaksud untuk memperkuat basis ideologi gerakan perempuan yang sesungguhnya
memiliki akar sejarahnya dalam gerakan perempuan di Indonesia. Sungguh ironis
jika pada kelanjutan ceritanya, organ intelektual laiknya PMII justru mengalami
keterputusan. JPP hadir agar situasi ini sebisa mungkin dihindari.
Kegiatan JPP
Dalam
kapasitasnya sebagai jaringan, maka kegiatan yang didesain oleh JPP pada
awalnya tentu masih berkutat pada proses pematangan konsep gerakan. Dengan
segala keterbatasan yang dimiliki, JPP memutuskan untuk melakukan hal yang
paling mungkin bisa dilakukan. Mulailah dibuat list kader-kader perempuan yang
masih dikenal, visi dan misi jaringan yang sudah di bentuk dan akan mulai
diarahkan kemana jaringan ini.
Sampai
pada akhirnya pada tanggal 20 Desember 2012 JPP mulai memperkenalkan diri secara
luas kepada kader-kader perempuan melalui kegiatan keagamaan yang masih
ditradisikan oleh PMII seperti Yasinan dan Tahlil. Kegiatan itu mengambil
tempat di Perumahan Pondok Ngaliyan Asri, Ngaliyan. Acara tersebut kemudian
dilanjutkan dengan sharing, berbagi
pengalaman dan informasi terkait gerakan perempuan PMII saat ini. Akhirnya
muncul kesepakatan bahwa harus diadakan pertemuan-pertemuan serupa agar
komunikasi tetap terjaga dan jaringan ini semakin kuat.
Pertemuan
kedua disepakati diadakan di Camp Semesta Putri, kos sekaligus wadah beberapa
kader perempuan. Pertemuan kedua mulai melahirkan pikiran-pikiran bahwa
Jaringan Perempuan PMII perlu mengulas sejarah gerakan perempuan PMII di IAIN. Ekspektasi
besar ada di pundak JPP ini. Jaringan ini diharapkan bisa menjadi wadah yang
kuat dalam menaungi perempuan-perempuan PMII. Bersama kita bisa dan bersama
kita kuat.
editor: Tedi Kholiluddin, M. Si

Tidak ada komentar:
Posting Komentar